Sore itu seperti biasa, aku dan sahabatku pergi ke salah satu panti asuhan di kota yang terkenal dengan julukan kota cantik itu. Menyisihkan honor yang tak seberapa ala kadarnya berharap dapat memberi manfaat walau sedikit saja.
Aku yang baru ditinggalkan ibuku 40 hari berlalu masih terasa sesak ketika rindu menatap fhotonya, rindu ingin bertemu, mencoba mencari ketenangan disela-sela waktu, berdoa disetiap penghujung sholat untuk menepiskan rasa rindu yang kadang susah untuk membendungnya…
Kembali ke suasana panti itu, di ruang tamu tampak rame anak-anak panti berhamburan duduk di pojok-pojok dinding menikmati jagung rebus yang mereka pegang masing-masing di tangan kanannya, ada yang serius menikmati biji demi biji jagung kuning itu, ada juga yang sambil bercanda, ngobrol, bahkan berlarian dengan masih memegang erat jagung itu ditangannya. “ahhh anak-anak” gerutu hatiku.
“Assalamualaikum… “ kami serentak memberi salam.
“wa’alaikumsalam” jawab ustad.
“mau ada acara ya stad?” Tanya sahabatku pada ustad yang lagi duduk di ruang tamu itu setelah menerima tamu lain yang sekarang berpamitan ketika melihat kedatangan kami.
“ga ada acara nak, memang beginilah mereka seperti biasanya” jawab ustad dengan nada datar.
Aku hanya diam dan tersenyum. Seperti biasa aku akan berubah menjadi cewek pendiam ketika berada di zona yang bukan zona milikku.
“ada anak baru ya stad?” sobatku bertanya lagi, ketika itu kami memang lagi melihat seorang ibu berbicara dengan logat daerahnya pada salah satu ustad muda disana. Dia izin pamit dan meninggalkan dua orang anak laki-laki yang umurnya kira-kira 8 dan 9 tahunan.
“ohh iya ada 2 anak baru, mereka sudah kehilangan kedua orang tuanya. Dan mereka baru saja jadi mualaf ketika masuk sini.”
Semua diam sejenak… “ohh” batinku. Banyak hal sebenarnya yang ingin ku tanyakan lagi tentang kedua anak itu, tapi seperti biasa lidahku kaku, aku hanya diam membisu.
“ini pak ada sedikit buat anak-anak disini. Semoga bermanfaat” tutur sahabatku lagi.
“Alhamdulillah…. Terimakasih yaa nak” jawab ustad yang kemudian diiringi gerakan menengadahkan kedua tangannya sambil berdoa.
Aku, sahabatku, dan beberapa anak kecil yang duduk di lantai dengan masih memegang jagung itu ikutan menengadahkan tangan mengAMINkan doa ustad.
Setelah berdoa, ada salah satu anak kecil mendekati kami mengulurkan tangannya ingin salim.
“ya Allah pintarnya kamu de” lagi-lagi aku bicara dalam hati setelah dia selesai mencium tanganku.
Kami pun berpamitan dengan ustad dengan mengucapkan salam.
Kedua mataku masih penasaran dengan kedua anak baru itu, melirik mereka sudah masuk rumah dengan membawa tas ransel tampak merasa bingung dan canggung ketika ustad muda itu mengajaknya masuk.
Kaki ini pun sudah beranjak keluar pintu rumah panti asuhan itu dengan diiringi langkah sahabat dibelakangku.
Entah kenapa dadaku terasa sesak… butir-butir air itu jatuh berguguran dari mataku, aku sesegukan.
“kenapa len?” Tanya sahabatku.
Aku diam dan cepat-cepat menghapus semua air yang membasahi pipi dengan jilbab biruku.
Sobatku paling mengerti aku, aku tau dia pasti melihat gerak-gerikku meski aku menyembunyikannya. Dia tidak meneruskan
pertanyaannya dan kami pergi meninggalkan tempat itu.
Dengan cepat, aku membawa kendaraanku, menutup kaca helem dan… aku tak bisa membendungnya… butir-butir airmataku…. jatuh lagi…
“Ya Allah Ya Rabbi… aku tak bisa membayangkan ditinggalkan kedua orang tuaku bila aku masih sekecil kedua anak itu.”
“Ya Allah Ya Rahman maafkan aku bila sering terbesit rasa iri dan ketidakbersyukuran atas nikmat yang Engkau berikan kepadaku… Engkau hanya mengambil Ibuku, Engkau masih menitipkan Ayah dan ketiga saudara-saudara yang sangat perhatian kepadaku…”
“Ya Allah maafkan aku… aku malu.. malu pada dua anak itu. Sungguh aku tak bisa membayangkan akan betapa sedihnya aku bila menjadi mereka… akan melalui hari-hari disana, beranjak dewasa disana dipanti asuhan itu tanpa kedua orang tua yang sangat ku cintai”.
Aku teringat ketika ibu masih hidup, kala itu aku pernah bilang pada ibu salah satu mimpiku adalah ingin membuat panti asuhan entah bagaimana nanti jalannya aku juga tidak tahu. Tapi nyatanya sekarang aku diuji untuk sabar manjadi anak piatu.
Salam rindu buat ibu, segala doa, sedekah, semua kuniatkan untukmu atas nama Allah...
Seperti Delisa pernah bicara pada Umminya dalam Film.
Tanpa mengharap sebatang cokelat, aku pun ingin bilang “Aku cinta Ummi karena Allah”.
Senin, 2 Januari 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar